Di Tangan Edo, PMII Jawa Timur Dinilai Menuju Degradasi: Abdul Aziz Pertanyakan Arah Gerakan PKC

Di Tangan Edo, PMII Jawa Timur Dinilai Menuju Degradasi: Abdul Aziz Pertanyakan Arah Gerakan PKC

Kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur, Edo, menuai kritik dari kader PMII Unitomo, Abdul Aziz. Ia mempertanyakan arah gerakan organisasi di bawah kepemimpinan Edo yang dinilainya belum menunjukkan peran signifikan dalam merespons berbagai persoalan publik, baik di tingkat nasional maupun di Jawa Timur.

Abdul Aziz menilai, kondisi tersebut harus menjadi alarm serius bagi seluruh kader PMII. Sebagai organisasi kemahasiswaan yang memiliki tradisi intelektual, kaderisasi, dan gerakan sosial, PMII Jawa Timur semestinya tampil mengambil posisi dalam mengawal persoalan rakyat, bukan justru terkesan absen ketika berbagai persoalan strategis mencuat.

Salah satu isu yang disorot ialah maraknya dugaan aktivitas pertambangan ilegal di Jawa Timur. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan sikap kritis, kajian yang mendalam, serta langkah advokasi yang nyata dari organisasi mahasiswa. Namun, ia mempertanyakan sejauh mana PKC PMII Jawa Timur telah mengambil peran dalam mengawal persoalan tersebut.

“Ketika persoalan publik terus bermunculan, kader berhak mempertanyakan posisi organisasi. Di mana PMII Jawa Timur ketika masyarakat membutuhkan suara kritis mahasiswa? Jangan sampai organisasi hanya aktif dalam agenda internal, tetapi kehilangan daya respons terhadap persoalan di luar organisasi,” tegas Abdul Aziz.

Optimisme Saat Debat Jangan Berhenti Menjadi Retorika

Abdul Aziz juga menyinggung optimisme yang disampaikan Edo dalam forum debat pada 2025 di hadapan kader PMII Jawa Timur. Menurutnya, gagasan dan janji kepemimpinan seharusnya dapat diukur melalui realisasi program, konsistensi gerakan, serta keberanian mengambil sikap terhadap persoalan publik.

Ia mempertanyakan apakah gagasan yang disampaikan dalam forum tersebut telah diterjemahkan menjadi agenda konkret atau justru berhenti sebagai narasi di ruang publik dan media sosial.

“Menjadi ketua umum bukan sekadar soal kemampuan menyampaikan gagasan. Yang dibutuhkan kader adalah bukti, program yang jelas, gerakan yang terukur, dan keberanian mengambil sikap. Kalau optimisme hanya berhenti pada kata-kata, lalu apa yang bisa dibanggakan dari kepemimpinan tersebut?” ujarnya.

Bagi Abdul Aziz, persoalan ini bukan sekadar kritik terhadap individu, melainkan evaluasi terhadap arah dan orientasi kepemimpinan organisasi. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan kader tidak dibangun melalui retorika, tetapi melalui konsistensi antara pernyataan, kebijakan, dan tindakan.

Ketua PKC Harus Kuat dalam Gerakan dan Diplomasi

Abdul Aziz menegaskan bahwa seorang Ketua PKC PMII Jawa Timur harus memiliki dua kemampuan mendasar, yakni membangun gerakan dan menjalankan diplomasi. Keduanya, menurutnya, tidak dapat dipisahkan apabila organisasi ingin tetap relevan dan memiliki pengaruh dalam mengawal kebijakan publik.

Gerakan menjadi instrumen untuk menunjukkan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat, sedangkan diplomasi diperlukan untuk membangun komunikasi strategis, membuka ruang penyelesaian persoalan, dan memperjuangkan aspirasi kader maupun rakyat.

“Ketua PKC harus kuat dalam gerakan dan diplomasi. Gerakan tanpa strategi bisa kehilangan arah, sedangkan diplomasi tanpa keberanian bergerak hanya akan menjadi komunikasi tanpa daya tekan. Jika keduanya tidak berjalan, organisasi berisiko kehilangan kepercayaan kader dan semakin jauh dari fungsi perjuangannya,” tegasnya.

Ia menilai, kepemimpinan organisasi mahasiswa tidak boleh berhenti pada rutinitas struktural, agenda seremonial, maupun konsolidasi internal. Seluruh aktivitas organisasi semestinya memiliki arah yang jelas dan menghasilkan kontribusi yang dapat dirasakan oleh kader serta masyarakat.

Isu Independensi Kepemimpinan Perlu Dijelaskan

Dalam kritiknya, Abdul Aziz turut menyinggung ungkapan “tidak enak dengan Ibu” yang, menurutnya, pernah menjadi pembicaraan dalam dinamika organisasi beberapa tahun lalu. Ia mempertanyakan apakah pertimbangan di luar kepentingan organisasi berpotensi memengaruhi keberanian dan independensi kepemimpinan.

Meski demikian, ia menilai persoalan tersebut perlu dijelaskan berdasarkan konteks dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan agar tidak berkembang menjadi spekulasi. Baginya, independensi merupakan prinsip penting yang harus dijaga oleh setiap pemimpin organisasi mahasiswa.

“PMII harus berdiri di atas kepentingan organisasi, kader, dan masyarakat. Jangan sampai muncul kesan bahwa sikap organisasi ditentukan oleh pertimbangan personal atau kepentingan tertentu. Kepemimpinan harus transparan, independen, dan berani mempertanggungjawabkan setiap keputusan,” ujarnya.

Abdul Aziz Desak Evaluasi Serius Kepemimpinan PKC PMII Jatim

Abdul Aziz menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan PMII Jawa Timur. Ia tidak ingin organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam gerakan mahasiswa justru kehilangan relevansi karena lemahnya respons terhadap persoalan publik.

Menurutnya, evaluasi kepemimpinan harus dilakukan secara serius, mulai dari efektivitas program kerja, arah gerakan, konsistensi kaderisasi, hingga keberanian organisasi dalam merespons isu-isu strategis di Jawa Timur.

Ia juga menilai kader tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika organisasi. Kader memiliki tanggung jawab moral untuk mengawasi kepemimpinan, menyampaikan kritik, dan memastikan organisasi tetap berjalan sesuai dengan nilai serta tujuan perjuangannya.

“Jangan sampai kita baru menyadari kemunduran organisasi ketika kader sudah kehilangan kepercayaan dan masyarakat tidak lagi melihat peran PMII. Ini harus menjadi momentum evaluasi. Ketua umum harus menunjukkan arah yang jelas, bukan membiarkan pertanyaan tentang masa depan organisasi terus berkembang,” pungkasnya.

Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan PKC PMII Jawa Timur bukan semata-mata jabatan yang disandang, melainkan kemampuan membangun gerakan, menjaga independensi, merawat kepercayaan kader, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Jika kritik ini tidak dijawab melalui evaluasi dan langkah konkret, pertanyaan tentang arah kepemimpinan Edo serta masa depan gerakan PMII Jawa Timur akan terus menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh kader.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

Membalas:
Jawab pertanyaan di atas untuk mencegah spam